Senin, 01 Februari 2016 09:15
Berita Fakultas
| Dibaca : 148
FIB—Himpunan
Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unand
menyelenggarakan bedah buku kumpulan cerpen “Lelaki Penjual Cermin”
karya Muhammad Ikhsan. Bertempat di Ruang Seminar Fakultas, diskusi yang
diselenggarakan Senin (25/1/2016) ini berlangsung lancar meskipun lampu
padam.
Dr. Syafril dan Romi Zarman menjadi
pembedah buku karya alumni Sastra Indonesia ini. Hal ini menunjukkan
bahwa alumni masih memiliki kecintaan terhadap perkembangan sastra
Indonesia hingga detik ini.
Membedah buku "Lelaki Penjual Cermin" ini, Romi Zarman mengangkat "Dari Garundang ke Kalepet: Arti Penting Sebuah Nama di Minangkabau". Menurutnya, premis yang menyatakan bahwa apalah arti sebuah nama tampaknya tidak berlaku di Minangkabau. Romi Zarman menyatakan bahwa Modar, Karampang, dan Kalepet adalah nama-nama tokoh utama dalam tujuh cerita pendek tersebut. Tiga cerita pendek menggunakan nama tokoh yang sama, namun diperankan oleh orang yang berbeda.
Membedah buku "Lelaki Penjual Cermin" ini, Romi Zarman mengangkat "Dari Garundang ke Kalepet: Arti Penting Sebuah Nama di Minangkabau". Menurutnya, premis yang menyatakan bahwa apalah arti sebuah nama tampaknya tidak berlaku di Minangkabau. Romi Zarman menyatakan bahwa Modar, Karampang, dan Kalepet adalah nama-nama tokoh utama dalam tujuh cerita pendek tersebut. Tiga cerita pendek menggunakan nama tokoh yang sama, namun diperankan oleh orang yang berbeda.
Mengenai cerpen "Lelaki Penjual Cermin",
Romi Zarman berpendapat bahwa ‘Kalapet’ adalah tokoh utama dalam cerpen
“Lelaki Penjual Cermin". Ia berperan sebagai penjual cermin yang selalu
setia ditemani sang istri ke mana pun mereka berjualan. Sepi dari
pembeli tidak membuat mereka jera meskipun kesepian itu cukup
berlangsung lama. Komitmen yang dibangun istrinya sejak awal pernikahan
terus dipertahankan sang istri. Namun, Romi Zarman menyatakan bahwa ia
tidak dapat membaca apa yang hendak disampaikan oleh pengarang lewat
sebutan ‘kalepet’ dalam cerpen “Lelaki Penjual Cermin". Ia mengungkapkan
bahwa nama "kalepet" yang dimaksud jauh dari makna jalinan ceritanya.
Kedua pasangan suami istri itu hidup bahagia. Istrinya tetap setia
meskipun hidup dengan ekonomi yang lemah. Menurut Romi Zarman, ini
sesuatu yang di luar akal epistemilogi Minangkabau.
Lebih lanjut, Romi Zarman juga mengulas tentang garundang atau anak koncek. Ia menyatakan bahwa garundang atau
anak koncek adalah perumpamaan di Minangkabau yang mengacu pada
negativisme. Dalam kumpulan cerpen ini, Romi Zarman melihat bahwa tokoh
berada di antara dua pilihan, apakah akan melanjutkan kulliah atau
mencari pekerjaan. Tokoh garundang dalam cerpen "Manikam
Nurani" berperan sebagai suami yang dihadapkan pada situasi gebalau
karena belum mampu memberikan nafkah penuh pada anak dan istrinya. Di
tengah gebalau ekonomi keluarga, datanglah Lebai, seorang kawan yang
sudah sepuluh tahun tak berjumpa Garundang. Ia membawa koran yang
akhirnya menginspirasi Garundang dalam memecahkan gebalau yang sedang
dihadapinya. Berjualan minuman entah apa, pengarang tak menyebutkannya
secara eksplisit, adalah jalan keluar yang ditempuh oleh Grundang.
Negativisme Minangkabau itu ditemukan pada level ini.
Sementara itu, Dr. Syafril mengangkat tema resistensi feminisme radikal dalam "Lelaki Penjual Cermin". Ia berpendapat bahwa dari dua belas cerpen yang dimuat, ia hanya menemukan dua cerpen yang menarik, yaitu “Bukti Cinta” dan “Pulang”. Cerpen "Bukti Cinta" menarik dari sisi solusi konflik, sedangkan cerpen "Pulang" menarik dari sisi bentuk konflik dan solusi konflik itu sendiri. Menurutnya, kedua cerpen tersebut tidak saja menarik secara struktural (terutama melalui unsur konflik dan solusi konflik tersebut), tetapi sebenarnya juga secara sosial.
Secara sosial, cerpen "Bukti Cinta" merupakan simbolisasi sosial atas fenomena resistensi antara feminisme radikal (perempuan ingin menguasai laki-laki) dengan latar belakang historis eksploitasi yang selama ini dialami akibat hegemoni lelaki. Hal ini terjadi dengan respon perlawanan balik secara maskulinitas dengan latar belakang posisinya yang selama ini berada di atas (superior).
Sementara itu, Dr. Syafril mengangkat tema resistensi feminisme radikal dalam "Lelaki Penjual Cermin". Ia berpendapat bahwa dari dua belas cerpen yang dimuat, ia hanya menemukan dua cerpen yang menarik, yaitu “Bukti Cinta” dan “Pulang”. Cerpen "Bukti Cinta" menarik dari sisi solusi konflik, sedangkan cerpen "Pulang" menarik dari sisi bentuk konflik dan solusi konflik itu sendiri. Menurutnya, kedua cerpen tersebut tidak saja menarik secara struktural (terutama melalui unsur konflik dan solusi konflik tersebut), tetapi sebenarnya juga secara sosial.
Secara sosial, cerpen "Bukti Cinta" merupakan simbolisasi sosial atas fenomena resistensi antara feminisme radikal (perempuan ingin menguasai laki-laki) dengan latar belakang historis eksploitasi yang selama ini dialami akibat hegemoni lelaki. Hal ini terjadi dengan respon perlawanan balik secara maskulinitas dengan latar belakang posisinya yang selama ini berada di atas (superior).
Sementara itu, cerpen "Pulang", di
samping juga menarik secara struktur, secara sosial menjadi menarik
karena juga problematis. Secara sosial, cerpen ini merupakan refleksi
perlawanan perempuan (feminisme) yang tidak saja secara ideologis,
tetapi juga secara fisik atas eksploitasi kekuasaan superioritas lelaki.
(Reporter: Dini Alvionita, Editor: Ria Febrina, Admin: Gading Rahmadi)
Selengkapnya cek: fib.unand.ac.id
Dini
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor Aenean massa.

0 komentar